ads ads ads ads

Rabu, 11 Januari 2012

Kisah Nyata Tokoh Laskar Pelangi

Lintang, Anak Miskin yang Cerdas
Tokoh Lintang dalam film Laskar Pelangi.
 
 
Dalam film dan novel Laskar Pelangi, Lintang adalah sosok murid yang sangat cerdas. Dia tinggal puluhan kilometer dari SD Muhamadiyah Gantung yaitu di daerah Tanjung Klumpang, Bangka Belitung. Setiap hendak sekolah, Lintang selalu dihadang buaya besar namun kerasnya hidup pernah tak membuatnya putus asa. Lintang terus belajar. Dia bahkan menjadi penentu kemenangan SD Muhammadiyah Gantung dalam lomba cerdas cermat. Suatu hari, Lintang tidak pernah kembali ke sekolah. Ayahnya hilang saat melaut. Lintang pun harus tinggal di rumah mengasuh sang adik.
SCTV mencoba menelusuri keberadaan Lintang di dunia nyata. Pencarian membawa menelusuri pelosok Tanjung Klumpang yang bertahtakan pemandangan Pantai Belitung yang indah. Beberapa orang yang disebut-sebut sebagai Lintang muncul. Tapi ternyata mereka bukanlah Lintang, anak miskin yang cerdas.
Siapa sebenarnya Lintang? Mungkin hanya Andrea Hirata-lah yang tahu. Namun yang pasti sosok seperti Lintang sebenarnya banyak terdapat di Tanah Air. Anak pintar yang tidak bisa berbuat apa-apa karena harus mengalah pada nasib.
Kucai, Ketua Kelas Anak-Anak Laskar Pelangi
Husaini Rasyid alias Kucai.
 
Siapa ketua kelas anak-anak Laskar Pelangi? Jawabannya adalah Kucai. Bakat kepemimpinan Kucai ketika anak-anak saat ini terbukti. Kucai yang mempunyai nama asli Husaini Rasyid saat ini menjadi Ketua Komisa A DPRD Belitung Timur dari Partai Bulan Bintang. Husaini bukan murid Sekolah Dasar Muhamaddiyah Gantung, tapi menjadi bagian dari Laskar Pelangi saat sama-sama belajar di sekolah menengah pertama dan atas. Husaini punya pengalaman pahit di waktu kecil yang melecut semangatnya untuk keluar dari kesulitan ekonomi. Tamat SMA, Husaini melanjutkan kuliah di Fakultas Pendidikan Olah Raga, IKIP Bandung. Pada tahun 2000 ia pulang ke Belitung dan terjun ke dunia politik. Husaini ingin membuat hidup lebih berati bagi masyarakat Belitung yang menurutnya masih tertinggal. "Kita berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain," kata Husaini, belum lama ini.
Kucai telah memegang jabatan penting di Kabupetan Belitung Timur. Mudah-mudahan ia akan selalu ingat pesan teman sekolahnya di SD Muhammadiyah Gantung.
Nasib Mengalahkan Akiong
Akiong
 
Dalam film dan novel Laskar Pelangi, Akiong adalah satu-satunya murid keturunan Tionghoa di Sekolah Dasar Muhamadiyah Gantung yang digambarkan sebagai sepupu Aling. Wanita yang menjadi cinta pertama Ikal atau Andera Hirata.

Akiong mempunyai nama asli Caw Kin Ciong. Ia adalah anak buruh PN Timah. Di Kecamatan Gantung, nama Akiong tak begitu dikenal karena sejak remaja menjadi muslim dan berganti nama menjadi Aman. Aman kecil bercita-cita membela nama daerah sebagai atlet.

Sayangnya keadaan ekonomi memupus cita-cita Akiong muda. Pendidikan di bangku sekolah SD Muhamadiyah Gantung mengajarkannya untuk tidak mudah menyerah pada nasib. Semua usaha dicoba. Akiong pun mulai melupakan cita-citanya yang mulia.

Sampai akhirnya sejak tahun 1988 Akiong membuka sebuah kedai kopi di salah satu sudut Pasar Gantung, pasar terbesar yang di Kabupaten Belitung Timur. Menurut Bu Muslimah yang merupakan guru SD Muhamdiayah Gantung Akiong adalah anak yang cerdas.

Akiong atau Aman adalah contoh nyata tidak meratanya hasil pembangunan di Belitung sejak tahun 70-an. Masyarakat asli tidak dapat menikmati enaknya uang dari hasil penambangan timah yang melimpah ruah.

Waktu tidak pernah bisa diputar kembali. Kini Akiong harus melupakan cita-citanya sebagai atlet sambil melihat lubang-lubang bekas pertambangan yang ditinggal pergi begitu saja oleh pemiliknya. Akiong harus kalah oleh keadaan.
 
Jejak Laskar Pelangi di Kehidupan Nyata
Ahmad Fajri, tokoh tokoh Mahar di Film Laskar Pelangi.
 
Tokoh Mahar dalam film Laskar Pelangi ternyata memiliki versi asli. Mahar di kehidupan nyata adalah Ahmad Fajri yang berprofesi sebagai guru. Ia mengajar akuntansi di Sekolah Menengah Atas 2 Tanjung Pandan, Belitung. Keberhasilannya menjadi guru tak lepas dari jasa Ical yang tak lain adalah Andrea Hirata.

Semasa kecil, Ahmad bercita-cita menjadi seorang insinyur. Cita-cita itu akhirnya kandas karena keluarga Ahmad tak memiliki biaya. Kondisi itu tak lantas menyurutkan langkah Ahmad. Ia menyelesaikan pendidikan hingga SMA. Ketika itu, Ahmad bertemu Andis yang mengajak dirinya melanjutkan kuliah.

Ajakan itu ditanggapi Ahmad dengan ragu-ragu. Ketika itu ayah Ahmad telah meninggal dan ia memiliki tiga orang adik. Keraguan bapak dua putri itu sirna setelah ia bertemu Andis. "Kawan itu bilang kami harus kuliah bagaimana pun caranya," kata Ahmad. Ia pun akhirnya berhasil menyelesaikan jenjang kuliah dan bekerja sebagai guru.

Ahmad kecil tak jauh berbeda dengan Mahar. Ia senang bernyanyi dan berbakat menjadi pemimpin. Di mata murid-muridnya, Ahmad adalah sosok guru yang bisa menjadi teman. Cara ia mengajar mudah untuk dimengerti. Ahmad juga dikenal sebagai guru yang baik hati dan bersahaja.

Kini Ahmad hidup bersama seorang istri dan kedua putrinya. Ia bertekad akan memberikan yang terbaik bagi kedua buah hatinya. Tekad kuat Ahmad untuk lepas dari kemiskinan telah berbuah manis.
 
erita Laskar Pelangi diangkat dari kisah nyata kehidupan anak-anak Pulau Belitung, Bangka Belitung, yang mengejar pendidikan di era 70-an. Meski didera kemiskinan, beruntung anak-anak Laskar Pelangi mempunyai guru seperti Bu Muslimah yang tidak pernah menyerah oleh keadaaan.

Tak berbeda dengan di film, Bu Muslimah yang asli hingga kini masih mengajar di Sekolah Dasar Negeri 06 Gantong, Belitung. Di SD Muhammadiyah Gantong, dulunya, Bu Mus bahu membahu mempertahankan sekolah dengan seorang lelaki yang sebenarnya adalah ayahnya sendiri, Abdul Kadir Hamid. Dalam film Laskar Pelangi, sosok sang ayah muncul melalui karakter Pak Harfan.

Usia Bu Mus kini memang tidak muda lagi dan hampir memasuki usia pensiun. Ia bisa saja tinggal di rumah dan bermain dengan tiga orang cucunya. Namun, semangatnya untuk mengajar tidak pernah padam. Lima hari dalam sepekan, ia selalu mengayuh sepedanya ke SDN 06 Gantong untuk mengajar.

Menjadi guru sebenarnya bukanlah cita-cita Muslimah remaja, karena sebagai lulusan Sekolah Kepandaian Putri, ia kelak ingin menjadi penjahit. Namun Bu Mus telah membuktikan melalui pengabdiannya, ia berhasil menjadi guru yang dicintai sekaligus dihormati muridnya.

Pemerintah pun mengapresiasi pengabdian Bu Mus. Saat peringatan Hari Guru Nasional dan HUT PGRI di Jakarta, Selasa lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas nama pemerintah menganugerahkan tanda jasa Satya Lencana Pendidikan kepada guru yang bersahaja ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar